Religius Society

Oleh : Ridhwan Ibnu Asikin*

Dimensi waktu yang dinamis, senantiasa membawa kita kepada dinamika yang beragam dan kompleks. Yang pada hakekatnya adalah menuntut kita untuk benar – benar mampu menilai segala sesuatu dengan se-objektif mungkin tanpa ada tendensi dari yang lain. Dengan begitu, tentunya semua itu akan membawa kepada satu arah yang sedikit demi sedikit akan memberikan perubahan.

Hal ini, sangat erat kaitannya dengan perkembangan dunia nasyid satu dasawarsa ke belakang, yang mampu menunjukkan eksistensinya di dunia musik Indonesia. Meskipun pada tataran praktiknya masih ada yang perlu diluruskan kembali.

Tak bisa kita pungkiri, bahwa perkembangan dunia nasyid kini tengah berada di lingkungan masyarakat sekeliling kita. Hal ini, menegaskan bahwa masyarakat kita sudah mulai bisa menerima hiburan yang sepantasnya mereka nikmati, meskipun tidak sebanyak penikmat musik lainnya. Akan tetapi, dari ke semuanya itu bisa menjadi bukti bahwa masyarakat kita tanpa disadari tengah menciptakan peradaban baru yaitu masyarakat yang agamis ( religius society ).

Ada satu kelebihan yang mampu menciptakan masyarakat kita menjadi sesuatu yang berada dalam koridor arti khusus. Hal itu berkaitan erat dengan kini maraknya lagu lagu relijius yang sedikitnya mampu merubah citra dan membawa pengaruh terhadap kehidupan beragama masyarakat kita. Kelebihan tersebut adalah untuk saat ini masyarakat kita sudah mampu membedakan arti sebuah syair dan jenis musik. Meskipun masih ada sebagian masyarakat memandang hal itu masih bukan soulmusic.

Tetapi sedikitnya, mereka kini sudah mau mendengarkan dan mengenal nasyid dalam dunia musik. Dengan begitu, ini bertanda bahwa masyarakat kita perlahan tengah mencoba menerima sesuatu yang lebih dari sekedar cinta, cinta dan cinta, yang selalu di agung-agungkan selama ini.

Masyarakat kita ditengah kemajemukannya, saat ini sedang membentuk peradaban yang selama ini kita impikan. Meskipun pada tataran prakteknya, peradaban tersebut hanya ada pada waktu yang tertentu, yaitu pada bulan ramadhan saja. Akan tetapi, ini adalah suatu kebanggaan bagi kita. Meskipun hanya satu bulan dari dua belas bulan yang ada, mereka mau menikmati lagu – lagu relijius, tapi hal itu cukup untuk membuktikan bahwa masyarakat kita belum mau meninggalkan kita sepenuhnya.

Hal yang harus diambil oleh kita –sebagai seorang munsyid- dari buah kecintaan masyarakat sekeliling kita yang tengah menikmati lagu lagu relijius adalah mereka masih menerima eksistensi kita di dunia musik, meskipun tidak sepenuhnya. Dengan begitu, hal ini bisa kita ambil sebagai impulse untuk tetap semangat di jalur kita. Wallahu a’lam bish showab.

Illahi Anta Maqsudi Wa Ridhoka Matlubi

* Ketua Umum ANN ( Asosiasi Nasyid Nusantara ) Mesir & Mahasantri Universitas Al Azhar Kairo – Mesir