Profesionalisme Dalam Nasyid

Oleh : Ridwan Ibnu Asikin*

Suatu hari, saya di kasih pinjam oleh seorang teman vcd tim nasyid yang berasal dari Bandung. Dengan semangat yang menggebu gebu saya tonton semua video klipnya. Dengan akhir cerita, saya tergugah dan sangat sedih ketika melihat video klip tersebut. Kesannya, ada satu yang belum bisa kita berikan dalam menyajikan sebuah video klip nasyid. Yaitu, keprofesionalan serta kepiawaian dalam membuat klip.

Yang tergambar dalam benak saya adalah bahwa dari semua video klip nasyid yang ada dan yang pernah saya lihat, hanya 1 % yang benar benar cocok di mata pemirsa. Setidaknya, di sini akan saya jabarkan bagaimana video klip nasyid yang ada di kita. Meskipun sedikit, tetapi bukankah dari jumlah sedikit itu semuanya di mulai. Makanya, sebelum menjadi besar saya harap ini bisa di jadikan sebagai sebuah kontemplasi bagi semuanya.

Baik, di sini akan saya jabarkan dimana letaknya suatu nilai video klip yang ada. Dan saya harap ini bisa di jadikan pelajaran buat kita semua. Pertama, terkesannya di buat seadanya. Jika memang benar, tidak ada penyandang dana. Ya, setidaknya kita harus memberikan kesan agar si penyandang dana datang. Kedua, belum professional. Bisa kita lihat bagaimana pembuatan klip tersebut. Yaitu dengan latar, bintang video klipnya, alur ceritanya dll. Ketiga, belum bisa membaca “pasar” bagaimana menginginkannya, kita tengok bagaimana lagu lagu sekuler membuat video klip bisa memberikan satu kesan yang bagus ketika melihat video klipnya. Keempat, ideologi yang terlalu tinggi. Kita terlalu terpatok pada suatu nilai. Makanya, imajinasi kita buyar dan akhirnya kita terkekang pada satu nilai. Baik itu nilai dari kenasyidan nya itu sendiri, ataupun nilai dari agama.

Ok, kita akui bahwa kita tidak boleh menafikan nilai nilai dari ajaran kita. Tetapi selama kita tidak melanggarnya. Why not ? kita selama ini, terlalu di pojokkan bahwa nasyid masih di miliki satu kalangan. Dari sinilah, kita terkekang akan nilai dari masyarakat tersebut. Sehingga imajinasi kita hilang.

Jika kita mau nasyid itu di miliki dan di minati oleh pelbagai lapisan masyarakat. Maka langkahnya; Pertama, hilangkan ideologi kita. Bernasyidlah dengan senang hati jangan terpatok pada satu nilai. Kedua, hilangkan image kita akan mereka. Dengan begitu, kita bisa membuka diri untuk mereka dan mereka juga pasti akan membuka diri untuk kita. Ketiga, keprofesionalismean dalam membuat seni. Selama ini di mata masyarakat nasyid terkenal dengan rebbana dan lain lainnya yang berkaitan erat dengan nasyid jaman dahulu. Maka untuk sekarang, kita harus bisa membaca minat masyarakat seperti apa. Dengan syarat kita harus tetap bisa menjaga nilai nilai ajaran kita. Keempat. Keahlian dalam membuat klip. Di kita memang belum ada yang serius terjun menjadi sutradara video klip nasyid karena mungkin daya jual yang tidak ada sama sekali makanya mereka enggan. Beranjak dari sini, kita harus benar benar bisa membuktikan bahwa sutradara yang sebenarnya adalah diri kita sendiri. Bukankah keyakinan adalah kunci dari semua kunci.

Kembali ke permasalahan video klip. Setelah di atas saya jabarkan nilai akan video klip nasyid di kita. Saya harap ini bisa kita jadikan sebagai satu tolak ukur untuk memulainya dengan baik dan professional. Karena, hal ini di mulai dari mata turun ke hati. Jika dari mata kita tidak enak maka ke hatinya pun ngga ada sebaliknya jika di mata kita indah dan memberikan kesan maka ke hatinya pun akan begitu pula. Bukankah semuanya berawal dari pandangan.

Selanjutnya, menindaki nilai tersebut. Kita harus mampu maju dan berkembang. Meskipun kita tidak punya media tetapi kita harus yakin akan janji Allah Swt bahwa kemenangan selalu ada di tangan orang muslim. Makanya, untuk bisa di nilai oleh satu media kita harus mampu bagaimana media tersebut bisa memberikan acungan jempol buat seni yang kita miliki ini dan tentunya kita juga harus punya daya jual. Maksudnya, bukan hanya sekedar materi tetapi daya jual di sini adalah kita harus mampu bersaing dengan musik yang lain. Itulah yang sebenarnya harus kita miliki.

Jika kita memiliki jiwa seperti itu, maka kesannya yang seadanya dan ketidakprofesionalan itu akan hilang sedikit demi sedikit dan terganti oleh sesuatu yang mempunyai daya jual serta memberikan kesan yang bagus di mata masyarakat. Bukankah kita bernasyid untuk di nikmati oleh masyarakat. Maka hal ini patutlah kita renungi sebagai awal dari semuanya. Bukan karena masyarakat kita menilai seperti itu kemudian kita ciut dan enggan berkembang. Inilah awal dari kebobrokan dunia nasyid jika para munsyidnya memiliki jiwa seperti ini.

Berangkat dari sini, sejatinya kita harus mampu bangkit untuk memperbaharui semuanya. Mari kita awali ini dari awal lagi. Bukankah suatu awal yang baik bisa menghasilkan akhir yang baik pula. Maka dari itu, mari kita jadikan ini sebagai sebuah kontemplasi buat kita. Jangan sampai menjadikan ini sebagai kebencian seseorang. Naudzubillah…

‘Ala kulli hal, mari kita senantiasa berdo’a semoga apa yang kita cita citakan di muka bumi ini di kabulkan oleh Sang Maha pencipta lirik semesta kehidupan. Amien. Dan mudah mudahan kita selalu di berikan kekuatan serta keindahan dalam bernasyid. Amien.

* Penulis adalah Ketua Umum Asosiasi Nasyid Nusantara ( ANN ) Mesir.