Nasyid & Realita

Oleh : Ridhwan Ibnu Asikin*

Selalu menarik memang, kalau setiap ada sesuatu hal yang dibilang baru di kalangan masyarakat kita kemudian “ naik daun ”. Maka, tidak menutup kemungkinan pelbagai kritikan, pujian bahkan sampai cacianpun akan sampai padanya. Hal ini sudah tidak aneh di zaman sekarang. Sesuatu yang baru kemudian hal itu bagus, maka ada kesempatan hal tersebut untuk di caci maki atau di puji. Itulah kiranya yang bisa menggambarkan peranan seni nasyid dewasa ini. Mau tidak mau, kini kehadiran nasyid telah menjadi satu bagian yang sangat berbeda dari yang lain.

Tentunya, ini adalah satu kebahagiaan bagi kita dan anugerah buat kita semua. Ternyata, selama ini perjuangan kita untuk memberikan solusi hiburan hampir menduduki puncaknya. Akan tetapi, tidak lantas perjuangan kita berhenti sampai disitu saja, justru dengan keadaan kita yang bisa dikatakan sedang “ diatas angin ” akan semakin bertambah berat perjuangan kita. Banyaknya pertanyaan – pertanyaan yang harus kita jawab, cacian – cacian yang harus kita terima dan kritikan – kritikan pedas yang mampir di telinga kita begitu juga banyaknya sanjungan – sanjungan yang menerbangkan hati kita. Itu semua akan hadir ditelinga kita saat ini.

Hadirnya nasyid atau lagu – lagu relijius di tengah kemajemukan sebagian masyarakat kita, mampu membawa angin segar bagi kita. Dengan begitu, beban kita sudah mulai terasa ringan karena sebagian masyarakat kita sudah mau mendengarkan nasehat – nasehat Illahi meskipun itu hanya satu bulan saja yaitu di bulan ramadhan.

Kini, disaat – saat nasyid atau lagu – lagu “ relijius ” tengah di gandrungi oleh masyarakat kita yang pada hakekatnya adalah menuntut kita untuk benar – benar resfek atau jeli dalam menilai sebuah seni secara objektif sehingga nilai – nilai seni nasyid yang selama ini kita perjuangkan masih melekat pada tataran praktiknya. Bukan lantas karena sedang di gandrunginya kemudian kita kehilangan arah perjuangan kita yang sedari dulu sudah di agendakan. Ini adalah tugas kita.

Sekarang banyak sekali bermunculan lagu lagu yang bernapaskan reliji. Sampai – sampai group musik yang awalnya menyanyikan lagu – lagu “ sekuler ”. Sekarang sudah mulai menciptakan dan menyanyikan lagu – lagu relijius. Resfek sebagian masyarakat kita pun sangat baik terhadap mereka karena mungkin mereka lebih dikenal. Ini bertanda bahwa sebagian masyarakat kita masih dibutakan oleh sosok “ budak – budak entertainment ” sehingga penilaian mereka kepada kita masih kurang.

Jujur, selama ini kita masih belum bisa untuk menembus dunia entertainment yang masih berbau cinta, cinta dan cinta. Yang kita lakukan selama ini hanya bisa menyaksikan dan sedikit bahagia karena lagu – lagu relijius kini tengah asyiknya di kalangan masyarakat. Tetapi, dengan begitu kita juga sedikit terlena akan tujuan kita yaitu kita dilahirkan bukan seperti mereka, tetapi kita dilahirkan untuk mereka. Mereka menghibur karena tuntutan pasar sedang kita menghibur karena tuntutan perjuangan dan lillahi ta’ala. Itu perbedaan kita dengan mereka.

* Penulis adalah Ketua Umum ANN ( Asosiasi Nasyid Nusantara ) Wilayah Mesir dan Mantan Ketua Umum SIMFONI ( Silaturrahmi & Forum Nada Islami ) Kairo masa jihad 2006 – 2007.