KILAS BALIK SATU DEKADE NASYID INDONESIA
( Sebuah Catatan Perjalanan 1998 – 2008 )

Sungguh membanggakan dan menggembirakan melihat perkembangan yang dicapai Nasyid Indonesia satu dekade ke belakang. Ratusan bahkan mungkin ribuan tim nasyid baru bermunculan dengan berbagai warna dan tema yang diusung. Apakah cukup sampai di sini saja? Bagaimanakah sebaiknya munsyid –istilah untuk pelantun nasyid- dan nasyider –istilah untuk pecinta dan pemerhati nasyid- bersikap dan bertindak?

Era Sebelum 1998

Marilah kita tengok sebentar belantika senandung islami sebelum era reformasi. Jauh sebelum nasyid sebenarnya sudah ada senandung bernuansa islami lainnya seperti Qosidah maupun Hadrah sebagai sarana dakwah. Akan tetapi sarana dakwah ini hanya mampu menyentuh kalangan tertentu saja.

Nasyid hadir sebagai jawaban atas permasalahan ini yang digali dari Siroh Nabawiyah serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi kekinian. Nasyid Indonesia mulai berkembang sekitar tahun 80-an ketika berbagai pergerakan islam yang berafiliasi internasional mulai masuk ke tanah air. Pada awalnya nasyid berkembang dari kalangan aktivis masjid dan mushola kampus-kampus PTN ternama. Waktu iru nasyid cenderung memiliki penampilan ”monoton” dengan warnanya yang khas berbahasa arab serta syair dan irama yang mengobarkan semangat keislaman. Baru ketika awal tahun 90-an muncul tim-tim nasyid membawa corak baru yang lebih nge-pop seperti SNADA, walaupun masih banyak juga yang menyajikan nasyid harokah yang masih bertahan sampai sekarang seperti Izzatul Islam.

Para munsyid ini berhasil masuk ke dapur rekaman, menembus major label besar sekelas Musica Studio. Mungkin dikarenakan era politik waktu itu yang kurang mendukung ditambah merajalelanya musik-musik sekuler menyebabkan perkembangan nasyid Indonesia terhambat. Paling banter mereka hanya tampil ketika bulan Ramadhan saja mengisi waktu sahur dan saat berbuka atau ketika hari raya idul fitri.

Era Setelah 1998

Seiring dengan dikumandangkannya era reformasi, kebebasan berekspresi yang dulu terbendung seolah-olah jebol. Banyak hal menguntungkan yang diperoleh namun tidak sedikit pula bahaya serta tantangan yang dihadapi. Masyarakat kita mulai akrab dengan lagu-lagu sederhana namun penuh arti yang dibawakan oleh para pelantun nasyid bahkan selebritis yang biasanya bersenandung cinta-cintaan ikut-ikutan banting sentir membawakan lagu-lagu religius. Munsyid-munsyid dari negeri jiran berdatangan sehingga kita mengenal nama-nama seperti RAIHAN, INTIM, BROTHERS dan lain sebagainya. Dengan bahasa yang mudah dimengerti nasyid mereka membuat pendengarnya kesemsem.

Bagaimana dengan munsyid Indonesia? Satu per satu kita bisa sebutkan kawan-kawan serumpun dari pesantren Darut Tauhid seperti THE FIKR, TAZZAKA atau MQ Voice yang concern terhadap masalah manajemen qolbu dimana nasyid mereka diiringi alunan perkusi yang menawan. Ada juga tim nasyid yang membidik remaja seperti MG-16 yang sekarang berganti nama menjadi F-1 atau Justice Voice. Tema-tema yang dibawakan sangat anak muda sekali terdengar dari pemakaian bahasa gaul dan selengan namun tetap santun. Bahkan ada beberapa nasyid mereka yang diiringi keyboard atau drum set lengkap layaknya sebuah band. Ada juga tim nasyid yang mempertahankan kelihaian bermain musik mulut alias acapella seperti GRADASI atau Suara Persaudaraan.

Sebenarnya masih banyak nama-nama dan warna-warna lain yang ada termasuk tim-tim nasyid yang mengambil jalur indie label dengan memproduksi dan memasarkan karya mereka sendiri atau yang manggung dari satu walimahan ke walimahan yang lain. Jangan dilupakan pula tim-tim nasyid dadakan kepunyaan remaja masjid yang biasanya dibentuk sehari sebelum kegiatan diadakan. Dengan berbagai keterbatasan namun semangat mereka patut untuk diacungi jempol.

SEKARANG?

Kesadaran berislam serta perkembangan nasyid tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Keduanya saling memberi pengaruh layaknya simbiosis mutualisme dalam suatu ekosistem yang dinamis. Hal inilah yang sebaiknya selalu diingat setiap munsyid dan nasyider. Hingar bingar dunia hiburan jangan sampai mengaburkan pandangan kita akan tujuan dan niat awal kita. Lillahi Ta ’ala. Perjalanan nasyid masih panjang dan masih banyak hal baru yang akan berkembang. Kita harus lebih kreatif dalam mengemas karya kita tanpa melupakan koridor syar’i.

  • Penulis: Tri Kaloko (Reporter Radio Nasyid Online, trikaloko@radionasyid.net)