Apa Bedanya… ????

Oleh : Ridhwan Ibnu Asikin*

Dalam satu pertemuan yang sudah lama, teman saya pernah bercerita bahwa pada suatu hari tanpa disengaja, dia pernah mengikuti sebuah acara seminar tentang kajian pra nikah yang bertempat di Daarut Tauhid Bandung, dengan pembicara Salim A Fillah seorang penulis buku “ Indahnya pacaran setelah menikah ”.

Terlepas dari isi seminar tersebut, konon katanya pembicara juga mengomentari salahsatu tim nasyid asal Bandung. “ Saat ini banyak grup nasyid yang sudah kehilangan arah, banyak grup nasyid yang justru bikin kita lemah, tidak ada bedanya dengan lagu-lagu peterpan” Tutur beliau sambil mengutip salahsatu judul lagu tim nasyid yang dikomentari.

Tidak sampai disitu, hari ini saya kembali menemukan hal yang saya nilai pendapatnya sama dengan pembicara diatas. Tidak ada bedanya dengan lagu – lagu “ sekuler ” seperti yang diagung-agungkan oleh band-band yang kini marak diminati para remaja Indonesia.

Liriknya yang bermuatan cinta, cinta dan cinta kepada seorang wanita, kini menjalar ke dalam tubuh nasyid. Yang hal itu saya temukan dalam satu lagu milik sebuah grup nasyid yang sama seperti diungkapkan oleh pembicara seminar diatas. Meskipun saya belum pernah mendengarkan lagunya, namun saya sudah mendapati liriknya yang dipublikasikan dalam sebuah situs.

Hal ini menegaskan, bahwa ternyata kini nasyid sudah bukan lagi bertujuan untuk menjadi solusi dan berdakwah, melainkan hanya dijadikan sebagai ajang berkreatifitas dalam berseni. Satu persatu tim nasyid sudah berani meluncurkan lirik – lirik yang saya nilai sudah tidak ada bedanya dengan grup band. Bukan menambah semangat untuk beribadah kepada Allah melainkan mengajarkan kita untuk belajar meminta sesuatu yang seharusnya tidak kita minta kepada Allah.

Maka pantas jika seorang rapper bernama Thufail Al Ghifari dalam salahsatu lagunya yang berjudul “ Hari Umur Umat Islam ” menyindir perkembangan nasyid dewasa kini; “ Ketika nasyid sudah tidak berbeda lagi dengan Backstreet Boys dan Dewa 19 ternyata lebih harokah dari syair pagi Fallujah.”

Pernyataan seorang rapper diatas, bagi saya sangat menyakitkan hati. Akan tetapi, dengan lantunan liriknya tersebut membuat saya sadar akan perkembangan nasyid dewasa kini, yang hari demi hari sudah mulai berubah haluan. Tidak adanya filterisasi dari orang-orang yang mau peduli akan masa depan nasyid. Sehingga membuat mereka bebas berkarya tanpa ada batasan.

Perjalanan nasyid pun kini sudah ternodai, setelah kemaren saya menemukan nasyid berpolitik ria. Dan sekarang, nasyid sudah menjelma bagaikan band-band lainnya yang mengagung-agungkan cinta kepada lawan jenis dalam muatan liriknya. Jika begini, entah ke depannya nasyid akan seperti apa ? mungkin saja hanya “ sampah seni ” yang sudah kehilangan arah tujuannya. Dengan begitu, apa bedanya dengan grup band lainnya ?.

Berangkat dari sini, saya berharap dan memohon kepada para pecinta, pendengar, pelantun, penggiat serta para petinggi nasyid dimanapun berada, untuk bisa memberikan sebuah akumulasi bersifat preventif dalam hal yang berkaitan dengan penodaan arah perjuangan nasyid, seperti halnya wacana diatas. Agar kelak, nasyid bisa dirasakan kembali dengan arah perjuangan yang sebenarnya.

‘Alaa kulli hal, tidak ada harapan yang saya harapkan kecuali itu hanya kepada Allah Swt. Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini bisa menjadi washilah kesadaran bagi para pencipta dan pelantun nasyid.

Cairo, 27 April 2008

Illahi Anta Maqsudi Wa Ridhoka Mahtlubi ”

3.39 AM

* Penulis adalah Ketua Umum ANN ( Asosiasi Nasyid Nusantara ) Wilayah Mesir.